Selamat Jalan Franky Sahilatua …

Indonesia kehilangan satu lagi musisi berbakat dan humanis, Franky Hubert Sahilatua yang dikenal dengan Franky Sahilatua telah tutup usia. Si ‘Perahu Retak’ itu kini berlayar ke sisi-Nya.
Terjunnya Franky ke dunia musik adalah sebuah ketidaksengajaan. Cita-cita Franky belia kala itu ingin menjadi pelaut. Namun kedua orangtuanya, Hubert Johannes Sahilatua dan Theodora Joveva Uneputi-Sahilatua tak memberi izin.
Pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus 1953 itu kemudian berkuliah di Akademi Akuntansi Surabaya. Tapi, musik telah memberi Franky pemasukan. Uang tersebut kemudian ia tabung sebagai modal ke Jakarta. Franky ingin masuk dunia rekaman.Franky kemudian merilis album ‘Senja Indah di Pantai’ berduet dengan sang adik Jane Sahilatua pada 1975. Bersama Jane, Franky menelurkan 15 album di bawah label Jackson Record. Sekitaran 1992-1993 lahirlah lagu-lagu kenamaan Franky yaitu ‘Perahu Retak’, ‘Orang Pinggiran’, ‘Terminal’ dan ‘Di Bawah Tiang Bendera’. Read more of this post

Teknologi Informasi Kunci Demokrasi

 

democrazyTujuan Komisi Pemilihan Umum membangun infrastruktur dan sistem teknologi informasi adalah untuk mengumpulkan dan memublikasikan hasil perolehan suara pemilu di semua tempat pemungutan suara dengan cepat, akurat, dan transparan.

Ini penting untuk mengatasi kendala sistem pemilu yang lebih rumit, khususnya pada pemilu legislatif, kondisi geografis yang sangat beragam dan tersebar, serta keterbatasan sarana dan prasarana, baik transportasi maupun telekomunikasi.

Penyampaian informasi yang cepat dan akurat dapat memberi masyarakat kesempatan ikut secara langsung mengawasi proses penghitungan suara per TPS yang bisa dipantau melalui situs http://tnp.kpu. go.id/.

Dengan demikian, proses penghitungan suara menjadi lebih transparan, jujur, dan adil. Masyarakat langsung memantau adanya penyimpangan atau perbedaan perolehan suara dan melaporkan adanya perbedaan itu kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) setempat.

Di samping fungsi pengawasan, proses penghitungan TI menampilkan pergerakan perhitungan suara secara bertahap sehingga perkembangan perolehan suara dapat diikuti dari waktu ke waktu, dan masyarakat diharapkan lebih dapat menerima hasilnya. Ini terbukti dengan hasil Pemilu 2004 yang dapat diterima semua pihak, termasuk partai yang pada saat itu berkuasa.

Dasar penghitungan suara adalah perhitungan di TPS yang tercantum dalam formulir C1-IT dan disahkan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Hasil perolehan suara dalam formulir C1-IT langsung dibawa ke kecamatan atau PPK.

Pemilihan lokasi di kecamatan disebabkan kondisi geografis Indonesia yang luas dan jumlah TPS yang harus dimasukkan ke dalam sistem penghitungan suara. Waktu untuk membawa formulir C1-IT dari TPS ke kecamatan akan jauh lebih cepat daripada membawa formulir C1-IT dari TPS ke kabupaten atau kota sebagai lokasi untuk data entry (KPU daerah).

Data diamankan

Formulir didigitalkan oleh relawan data entry dan sebelum dikirimkan ke KPU pusat, data tersebut diverifikasi dahulu oleh PPK dan ditandai dengan diberikannya semacam personal identification number (PIN) khusus kepada PPK setempat. Setiap PPK di seluruh Indonesiamempunyai PIN khusus ini. Setelah PIN dimasukkan PPK, data dikirim setiap satu jam.

Pertimbangannya, untuk memasukkan data dari formulir C1-IT dibutuhkan waktu paling tidak lima menit per TPS (jumlah formulir ada empat buah, masing-masing untuk hasil DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD). Dengan satu komputer saja per jamnya dihasilkan 12 TPS atau 144 TPS per hari per komputer.

Pengiriman dapat dilakukan karena KPU membangun infrastruktur di kecamatan melalui PT Telkom (2.659 kecamatan) dan PT PSN (1.850 kecamatan), serta menambah perangkat komputer di kecamatan untuk Jawa dua buah dan luar Jawa satu buah.

Dalam proses pengiriman, data diamankan menggunakan enkripsi dan message digest untuk menghindari penyadapan dan perubahan data selama pengiriman. Setelah data diterima server dan diverifikasi oleh server yang dinamakan submission server, data tersebut diteruskan ke server lain atau data warehouse untuk ditampilkan di internet (http://tnp.kpu.go.id).

Data tersebut juga disampaikan ke sejumlah parpol dan televisi sehingga masyarakat dapat mengikuti proses penghitungannya. Data yang ditampilkan adalah data mulai dari DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Di samping itu, disediakan juga helpdesk untuk membantu operator di seluruh Indonesia yang bertugas selama 24 jam sehari.

Sejak awal

Secara umum proses pada sistem 2009 hampir mirip dengan yang dilakukan tahun 2004. Prinsipnya, mengambil data per TPS dengan diadakannya formulir C1-IT yang kemudian dikirimkan ke kabupaten/kota.

Perbedaan utama adalah metode untuk memasukkan data dari TPS yang menggunakan basis kabupaten/kota dan penggunaan teknologi intelligent character recognition (ICR) yang berbasis pemindai. Data dalam bentuk teks tersebut sebelum dikirimkan ke Data Center KPU dilakukan enkripsi agar tidak mudah dipalsukan atau diubah di tengah jalan (intercept).

Kemudian di server KPU pusat, data yang telah dienkripsi di buka kembali (dekripsi), divalidasi, dimasukkan ke data warehouse server, dan baru ditampilkan di internet melalui situs http://tnp.kpu.go.id.

Pada penjelasan teknis tim IT KPU 2009 di bawah koordinasi BPPT yang dirilis pada situs blog, http://tipemilu2009.wordpress. com/2009/04/06/mengenal-icr/, sistem yang digunakan adalah ICR. Adapun diagram kerjanya dapat dilihat di bawah ini.

Persoalan yang muncul adalah keterlambatan data masuk ke Tabulasi Nasional Pemilu (TNP). Masalah ini sebenarnya sudah dapat diduga sejak awal. Titik kritis persoalan adalah lokasi untuk melakukan data entry yang diputuskan di kabupaten/kota. Ada waktu yang cukup lama untuk membawa semua hasil di TPS (form C1-IT) ke kabupaten/kota yang jaraknya bervariasi antara satu lokasi dan lokasi lain.

Faktor lain adalah jumlah formulir sebanyak 8 lembar per TPS membuat lama proses pemindaian (pindai, edit, simpan, dan kirim). Selain itu, perangkat dan sarana-prasarana pendukung yang disediakan di kabupaten/kota tidak mencukupi untuk mengelola karena TPS yang jumlahnya bisa mencapai ribuan di wilayah KPU daerah.

Di Kota Bandung, misalnya, ada sekitar 1,5 juta penduduk, dengan jumlah per pemilih per TPS rata-rata 300, maka akan ada 5.000 TPS untuk setiap formulir C1-IT yang harus dipindai, edit, dan simpan. Jika setiap formulir C1-IT membutuhkan lima menit, maka per jam dihasilkan 12 formulir, dan kalau dilakukan 24 jam nonstop hanya dihasilkan 144 formulir C1-IT per TPS per komputer.

Jika ada dua komputer, akan dihasilkan 288 TPS per hari. Sedangkan jumlah TPS mencapai lima ribu, dan untuk melengkapi semua hasil TPS akan dibutuhkan waktu 18 hari (kalau tidak terjadi persoalan teknis lainnya).

Perbedaan lain yang mendasar adalah tidak terlihat adanya mekanisme untuk melakukan metode koreksi kesalahan dengan cepat dan hanya dilakukan proses untuk DPR, sedangkan DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota dan DPD tidak dilakukan KPU (tim IT KPU).

Penambahan perangkat

Keterlambatan terjadi di TNP disebabkan antara lain business process yang tidak dipahami secara menyeluruh oleh perencana sistem dan dampak yang ditimbulkannya, pengambilan keputusan untuk melakukan data entry, atau scanning formulir C1-IT di kabupaten/kota tidak disertai perencanaan operator memadai.

Ketidakjelasan prosedur standar operasi (SOP) untuk melakukan proses digitalisasi formulir data C1-IT dan teknologi ICR sendiri yang tingkat ketelitiannya masih tidak dapat mencapai 99 persen.

Melihat masalah yang terjadi terkait kasus yang muncul belakangan ini, terutama berhubungan dengan kelambatan proses penghitungan suara, proses pemindaian, sebaiknya dilakukan dengan menambahkan jumlah pemindai, komputer, dan operator untuk data entry.

Besarnya penambahan sarana dan prasarana tergantung jumlah pemilih di suatu daerah, walaupun solusi ini mungkin sulit dilakukan mengingat proses pengadaan barang membutuhkan prosedur yang tidak mudah.

Selain itu, mengingat waktu sangat terbatas, sebaiknya data setiap formulir C1-IT di setiap TPS dimasukkan dengan cara diketik melalui program sederhana, diverifikasi oleh KPU daerah, dan dikirimkan ke Data Center KPU. Dengan mengerahkan semua sumber daya, KPU dapat mengatasi ketertinggalan data yang seharusnya mencapai 70 persen hingga hari ini.

Basis undang-undang

Teknologi informasi juga dapat dilakukan untuk proses pembaruan pendaftaran pemilih daftar pemilih tetap (DPT) pilpres I. Dengan waktu yang sangat ketat, updating data DPT hanya bisa dilakukan menggunakan teknologi informasi secara hati-hati dan tepat.

Berbasis pada KPU daerah, KPU dapat menyediakan sistem yang dengan cepat digunakan untuk updating data pemilih pilpres, sekaligus melakukan pemantauan distribusi logistik hingga ke titik TPS yang dituju. Teknologi yang ada terutama yang dimiliki KPU 2004 dapat juga digunakan untuk proses penghitungan suara di Pilpres 2009.

Teknologi tahun 2004 terbukti dengan cepat dapat memberikan hasil yang tingkat keakuratannya di atas 99 persen. Dengan keakuratan dan proses yang dapat diverifikasi dengan cepat, masyarakat berharap proses pemilu ini jujur dan adil.

Perlu dipertimbangkan juga adanya UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, di mana dinyatakan pada Bab III Pasal 5 Ayat 1, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.

Ayat 2 menyebutkan, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Ayat 3, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ini.

Ayat 4, ketentuan mengenai informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 tidak berlaku untuk surat yang menurut UU harus dibuat dalam bentuk tertulis.

Berbasis pada undang-undang ini, data yang dihasilkan dari formulir C1-IT dapat juga dijadikan sebagai dasar hukum untuk penghitungan suara dan dapat secara sah diakui juga hasilnya sehingga teknologi informasi dapat memberikan sumbangsih yang besar pada proses demokrasi di Indonesia.

 

http://www.kompas.com 

Membangun Moral di abad Global

Oleh : Khoirul Anwar

“if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion lacks a wide heaven to breath in”.(Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk berjalan diatasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas).

Kata-kata Prof. John Oman yang di kutip oleh Dr. Faisal Ismail diatas mengajak kepada kita untuk menilik kembali terhadap pandangan kita yang selama ini kita pegang khususnya dalam hal memperbincangkan dalam kemajuan suatu bangsa.Kemajuan suatu bangsa tak hanya di ukur melalui patokan kemajuan teknologinya dan GNP nya semata tetapi juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya seperti yang tertulis dalam syairnya Ahmad Syangu, “sesungguhnya ini suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka bejat hancurlah bangsa itu“.

Read more of this post

Membangun Moral Bangsa

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Kebudayaan dapat dipandang sebagai kumpulan nilai-nilai. Kebudayaan adalah etika dan moral serta budi pekerti masyarakat. Dalam bahasa barat, culture dan civilization tidak ada hubungan langsung dengan mind, moral,atau ethics. Hanya bahasa Indonesia yang mempunyai hubungan langsung antara budi dan kebudayaan. Jelas sekali bahwa bagi bangsa Indonesia kebudayaan dipengaruhi budi-daya.

Read more of this post

Classroom Management

Teachers do not generally want to give control to their students. Teachers are instructed that the mark of a good teacher is that the teacher is in control of the class. (Taylor, 1987) The amount of control that teachers have in the class is often seen by the administration as a measurement of the quality of a teacher. Administrators are usually happy if a teacher never sends a student to the office and interpret this as proof that the teacher is in control and must be doing a good job. (Edwards, 1994)

Teachers are afraid of losing control if students have increased autonomy. Control is an issue with which many people in management have had to struggle. Although somewhat cyclic in its application, the business world has only in the last couple of decades really accepted the idea that central control may not be the best choice of management. The management systems of the U.S. military are also an interesting example. In the Vietnam war, the U.S. military was central office oriented. Most decisions were made at the Pentagon and White House. Even tactical decisions regarding the battlefield were often made on a table in Washington, D.C. If this style were compared to the management style of the Gulf War in 1991, it would be obvious that the U.S. military currently accepts that local control and autonomy are a better management style.

Read more of this post