Membangun Moral Bangsa

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Kebudayaan dapat dipandang sebagai kumpulan nilai-nilai. Kebudayaan adalah etika dan moral serta budi pekerti masyarakat. Dalam bahasa barat, culture dan civilization tidak ada hubungan langsung dengan mind, moral,atau ethics. Hanya bahasa Indonesia yang mempunyai hubungan langsung antara budi dan kebudayaan. Jelas sekali bahwa bagi bangsa Indonesia kebudayaan dipengaruhi budi-daya.

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Kebudayaan dapat dipandang sebagai kumpulan nilai-nilai. Kebudayaan adalah etika dan moral serta budi pekerti masyarakat. Dalam bahasa barat, culture dan civilization tidak ada hubungan langsung dengan mind, moral,atau ethics. Hanya bahasa Indonesia yang mempunyai hubungan langsung antara budi dan kebudayaan. Jelas sekali bahwa bagi bangsa Indonesia kebudayaan dipengaruhi budi-daya.

Tetapi kenapa saat-saat ini kebudayaan kita bisa dikatakan cukup kacau. Kita bangsa yang dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”,tetapi kenapa media elektronik atau media cetak kita penuh dengan kesyirikan. Para kiai yang tampil di acara mengajar keagamaan kalah populer dengan ”kiai-kiai” yang mengejar hantu setiap malam di televisi. Kita mempercayai Tuhan Yang Mahagaib,tapi kenapa beberapa kiai kita menjadikan agama Islam sebagai ”agama misteri” bukan agama yang rasional.

Umat Islam saat ini mengalami pembodohan yang luar biasa secara teknologis. Dalam era globalisasi ini,setiap umat dan bangsa memasuki era kompetisi di bidang ilmu dan teknologi, sedangkan bangsa dan umat Islam di Indonesia, asyik mendalami dan mengejar tempat misteri dan sakti. Mari kita bangkit dari terpuruk menjadi manusia massal (istilah Adlers). Umat Islam harus kembali kepada nilai-nilai Islam supaya tidak tergelincir dalam kemajemukan bangsa dan hedonisme serta pornografi dunia dan media.

Saya menawarkan nilai atau etika dari Alquran surat Al-Mukminun 1–10.Dalam awal surat ini Allah menjamin kesuksesan hidup hamba-Nya atau masyarakat yang mempunyai sifat-sifat atau nilai-nilai: (1) Selalu memegang relasi vertikal; (2) Selalu produktif dalam hidup; (3) tidak terbawa arus hura-hura; (4) Selalu dermawan; (5) Selalu menjaga tindakan seksualnya secara sehat; (6) Selalu menjaga amanah (uang, jabatan, dan kepemimpinan).

Kalau kita sistematiskan, pesan Allah dalam surat Al-Mukminun itu, maka relasi yang secara moral dipegang manusia adalah human to God relations dan human relations. Dalammasyarakat Barat dengan sekularisme mereka,yang dijaga hanya human relations, sedangkan ”God was dead”. Namun, dengan era revival of religion(dari 1980 sampai kini),ternyata Barat makin yakin bahwa manusia tidak bisa bahagia tanpa agama. Selain itu, menurut Daniel Goleman, Emotional Intelligence adalah suatu publikasi psikologi,bagaimana jiwa anak-anak sejak kecil sudah harus disentuh (touch) dengan rasa keagamaan.

Dari Emotional Intelligence saat ini berlanjut ke spiritual intelligence.Menurut ahli manajemen Barat,saat ini yang tepat,”Leading the people with your soul.” Barat makin mendekati spiritualitas dengan ilmiah,sedang bangsa dan umat Islam makin mendekati spiritualitas dengan ”orang pintar”yang secara intelektual tak pintar,alias dukun. Dalam menghadapi tantangan ini, marilah menjadikan Alquran dan Sunah sebagai referensi utama kejiwaan dalam membangkitkan Islam dan bangsa yang cerdas dan beriman. Dalam Surat Al-Mujaadilah ayat 11, Allah berfirman, ”Derajat umat Islam akan meningkat dengan iman dan ilmu.

” Karena itu,di dalam mendidik dan mengatasi problema dan constraints bangsa Indonesia, kita harus sabar dan berpikir jernih serta sistematis. Tidak perlu kita putus asa dan pesimis terhadap dampak buruk dari globalisasi. Umat dan bangsa ternyata tidak meletakkan ‘values’ sebagai integrating forces dalam membangun kepribadian masyarakat dan kebudayaan ”sebagai prioritas”.

Kita patut bersyukur bahwa para psikiater di negeri ini telah memulai memutar prioritas ”values” etika dan moral itu dalam membangun budaya masyarakat madani pada khazanah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terakhir, marilah kita membangun dan membina persatuan umat dan bangsa, membangun persatuan dan kesatuan dalam masyarakat majemuk sulit dan butuh kesabaran serta keadilan.Jangan ciptakan tirani mayoritas atau tirani minoritas dengan cara-cara tak sehat.

*Mantan Menteri Agama RI Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: